Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

Mar 23, 2014

Kristianus Pokuai : Terpilih Ketua IMAPA Bogor

Kristianus Pokuai @dok pribadi
Yogayakarta - Kepengurusan  Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua Kota Bogor akhirnya terpilih oleh salah satu teman kita anak karang barat nabire bernama Kristianus Pokuai yang sekarang masih menempuh studi di kampus Juanda Bogor dan mengambil jurusan perikanan. Kristianus yang sering kita sapa dengan nama kipox  (nama kompleks0. 
Sosok seorang kris, patut kita contohi karena untuk menjadi seorang yang hebat atau luar biasa itu selalu berawal dengan pengalaman.
Pengalaman itu banyak, tergantung teman - teman sendiri menjalaninya.

Pengalaman itu mendewasakan kita dalam berpikir dan mengambil tindalakan. sebagai contoh, seorang kris ini, kita bisa melihat sendiri dan mengetahui bahwa kris selalu aktif dalam beberapa kegiatan, contohnya ia pernah menjadi ketua kelas sewaktu masa SMP-nya, lalku menjadi ketua Osis di SMK Pertanian Nabire, lalu pernah Jadi Ketua Panitia Makrab di Bogor dan Kini pada tanggal 22 Maret 2014 ia terpilih jadi Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa kota Bogor. 

Pelantikan ketua IPMAPA Bogor di rencakan minggu depan dalam bulan maret, oleh karena itu pesan dari kaka John Pekei (senior rekabar) di bogor kepada teman - teman semua yang terpencar di beberapa kota studi sejawa bali maupun yang ada di papua bahwa kita sama - sama men-support dan mendoakan supaya teman kita bisa menjalani tugas dan tanggung jawab yang besar ini dengan baik.

Salam Kompak slalu (steven/rekabar jogja)






Mar 11, 2014

Menjawab Program "Lari Siang"

steven berpose habis jalan siang - ist

RechabarOnline - Hari ini selasa 11/3 merupakan hari dimana kami bisa menjawab program "lari siang" yang selalu tertunda karena beberapa hal penting. Saya (steven) dan Mereka dua (Ebi dan Frengky), kami mengawali lari siang ini dengan berjalan kaki dibawah terik panasnya matahari kota yogyakarta bertempat di Embung Tambakbayang Sleman Yogyakarta. 


Sedikit penjelasan tentang Embung Tambakbayang. Nah, embung ini merupakan salah satu tempat rekreasi dan tempat dimana semua orang bisa melakukan kegiatan mancing memancing dan melakukan refresing.
Siang ini, tepat jam 13.00 Waktu Yogyakarta, kami bertiga mengawali dengan berjalan dengan mengenakan baju peresap keringat.
Kegiatan ini kami lakukan untuk mengembalikan dan memperlancar sistem kerja metabolisme tubuh agar dengan melakukan ini, dapat membantu pembakaran lemak yang bisa dikeluarkan melalui keringat.

Route perjalanan yang kami tempuh ini memakan waktu kurang lebih 1 jam 1/4, kami mulai berjalan mengelilingi embung tambakbayang dan keluar menuju jalan ring road utara, kemudian kami memasuki desa paingan lalu kembali ke kos - kosan kami masing - masing.

Perjalanan ini, menurut Frengky, sungguh baik skali dan harus kita lakukan secara rutin, karena ini bisa mengembalikan dan memaksimalkan otot - otot serta persendian kita yang kaku, tambahnya lagi, ini awal kita jalan kaki dulu, nanti kali berikut kami mencoba dengan berlari.

Imbuh Ebi, kalau bisa kegiatan ini harus kita lakukan secara kontinue (berlanjut), bila perlu dalam seminggu kita lakukan 2 dan 3 kali. (R-Online / SD)

Aug 8, 2011

Sebuah Ruang di Kota Bogor

RechabAr On-Line- 8 Agustus 2011

Oleh Auki G. T.

Melihat Lapangan Sempur Bogor Sebagai RTH

Beberapa anak-anak Memandangi Lapangan Sempur 
Pada suatu pagi, tepatnya pada hari Minggu 27 Maret 2011, saya memutuskan untuk melakukan aktifitas jalan pagi. Saya tahu, warga Kota Bogor, setiap minggu pagi akan melakukan olah raga. Mulai dari jalan pagi, jogging atau pun bersepeda. Mereka biasanya berbondong-bondong menuju sebuah lapangan sepak bola yang terletak di tengah-tengah Kota Bogor. Saya berpikir hendak jalan pagi menuju ke sana.

Saya tidak punya sepatu sket. Jadi pagi itu saya hanya mengunakan sandal gunung yang selalu dipake ketika berpergian ke mana saja. Saya juga hanya mengunakan celana pendek yang terbuat dari bahan kain plus baju kaus. Pagi itu, kira-kira jam lima pagi.

Jarak antara kontrakan tempat saya tingal dan lapangan sempur kira-kira sekitar stengah kilo meter. Bagi saya jarak ini tidak terlalu jauh. Saya melalui jalan kecil lalu keluar ke jalan raya Pajajaran, sebuah jalan primer yang selalu ramai dipadati kendaraan. Pagi itu, aktifitas mobil tidak tampak ramai seperti pagi-pagi biasanya. Hanya tampak satu dua mobil yang lalu- lalang. Maklum hari minggu adalah hari libur kerja.

Benar, seperti yang saya duga. Pagi itu, saya tidak melakukan aktifitas jalan pagi sendirian. Banyak orang pun melakukan aktifitas yang sama. Mereka berbondong-bondong jalan pagi, jogging atau pun bersepedah. Mereka semua sama seperti saya, ramai-ramai menuju Lapangan Sempur.

Lantas ada apa di Lapangan Sempur sehinga setiap minggu pagi warga Kota Bogor berbondong-bondong mengunjungi lapangan sempur? Adakah sebuah magnet yang menarik warga ke sana?

Ruang Terbuka

Lapangan Sempur adalah sebuah lapangan sepak bolah di Kota Bogor. Ia terletak di jalan Jalak Harupat, bersebelahan dengan Kebun Raya bogor, dekat dengan Kali Ciluwung. Lebih tepat lagi terletak di depan Hotel Sempur Park . Di ujung barat lapangan itu terletak sebuah lapangan bola basket dan wall-climb untuk olah raga panjat tebing. Di ujung kanannya terdapat sebuah lapangan bola Voli dan taman yang cukup rindang (biasa disebut taman sempur). Lapangan ini dilingkari dengan run-track, untuk olah raga atletik: jogging, lari, jalan cepat, dll. 

Setiap sore lapangan ini selalu ramai dikunjungi oleh warga Kota Bogor untuk melakukan olah raga, jogging, bermain sepak bola, bermain bola voli, dan kegiatan lainya.


Lapangan ini akan lebih ramai lagi di kunjungi warga Kota Bogor pada minggu pagi. Seperti yang terjadi pada pagi itu. Hal ini karena tiap minggu pagi lapangan sempur akan berubah menjadi pasar dadakan. Para pedagan kaki lima, pedagangan asongan, maupun pedagan enceran akan menjajakan berbagai barang dagangan, mulai dari berbagai jenis makanan, minuman, pakayan, mainan anak-anak , berbagai jenis baju, cindera mata, berbagai jenis pisau dan masi banyak jenis barang lainya. 

Setiap minggu pagi, di Lapangan Sempur sering diadakan senam pagi bersama. Biasanya kegiatan ini dilakukan di sisi utara lapangan. Ada sebuah pangung yang didirikan di sana sebagai tempat berdirinya pemandu senam pag. Sedangkan di bagian tengah lapangan biasanya anak-anak kecil akan ramai bermain bola. Mereka tampil bak pemain professional pasalnya mereka mengenakan kostum sepak boleh. Pagi itu, saya asik menyaksikan menonton mereka. 

Pada hari-hari libur nasioanl, misalanya setiap tangal 17 Agustus, Lapangan Sempur selalu digunakan sebagai lokasi upacara. Kadang kala lapangan sempur juga dijadikan sebagai tempat konser music band papan atas nasional. 

RTH

Dalam terminologi keplanologian, Lapangan Sempur bisa disebut sebagai ruang terbuka (open space). Ruang terbuka adalah sebuah ruang yang sengaja dirancang khusus sebagai tempat warga berinteraksi satu sama lain. Di sini, warga dari berbagai golongan campur baur melakukan berbagai aktiftas. 

Karena berada di lokasi yang terbuka dan di kelilingi dengan berbagai pephonan, atau tidak dalam satu gedung, lapangan sempur lebih spesifik lagi disebut Ruang Terbuka Hijau (selanjutnya disingkat RTH). Ia masi dikategorikan lagi dalam Ruang Terbuka Hijau Public karena kepemilikannya tidak dimiliki oleh satu orang, atau satu instansi swasta. Ia bisa dikatakan milik warga Kota Bogor karena dikelola oleh salah satu dinas pemerintah, Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bogor. 

Eko Budiharjo, planolog asal Universitas Diponerogo mendefinisikan ruang terbuka sebagai suatu wadah yang menampung aktivitas manusia dalam suatu lingkungan yang tidak mempunyai penutup dalam bentuk fisik (Budihardjo, 1999; 90). Pengertian ini merujuk pada kata terbuka dengan mengartikannya sebagai tempat yang tidak memiliki penutup. Itu berarti masi ada juga ruang tertutup seperti mall, gedung olah raga dan lain-lain yang sengaja dibangun bagi warga kota agar melakukan aktifitasnya di ruang tersebut. 

RTH, secara umum memiliki empat fungsi yaitu fungsi ekologis, fungsi sosial, fungsi estetis/arsitektural, dan fungsi ekonomi. Secara ekologis RTH dapat meningkatkan kualitas air tanah, menjaga kualitas tanah, menurunkan suhu kota tropos yang panas, dan menggurangi polusi udara. 

Secara sosial RTH dapat menjadi tempat berinteraksinya masyarakat kota dalam satu wadah. RTH bisa menjadi wahana rekreasi anak-anak, orang dewasa dan lansia. Sebagai identitas kota berbudaya. Dalam hal ini, lapangan sempur suda memainkan fungsingnya seperti yang selalu tampak pada setiap sore maupun setiap mingu pagi. Warga kota bogor, biasanya melakukan aktifitas di sini.

Secara arsitektur, RTH dapat meningkatkan nilai keindahan dan kenyamanan suatu kota. Bayangkan sebuah kota tanpa ruang terbuka berupa taman kota, hutan kota atau jalur hijau kota. Suda pasti kota s dengan gambaran seperti ini pasti tidak elok dipandang mata dan tidak nyaman untuk dihuni. Lapangan sempur, walaupun tidak sesisnifikan kebun raya bogor yang letaknya bersebelahan, juga suda memberikan sumbangsi dalam mengemban fungsi ini.

Dulu, katanya, lapangan sempur adalah sebuah lahan kosong yang disulap jadi taman. Seandanya tidak di jadikan taman, setiap harinya mata kita akan selalu dihadapkan pada pemandangan monoton berubah penguna perumahan, perkantoran atau mall. Jika menghubungkan kata “sengaja dirancang” pada definisi RTH di atas dan Fungsi sosial dari RTH, tampaknya Lapangan Sempur telah berhasil direkasa memainkan peranannya.

Yang terakhir ialah fungsi ekonomi. RTH sebenarnya tidak memiliki nilai signifikan secara ekonomi. Ia mungkin hanya bisa meningkatkan harga lahan, dan menjadi tempat warga kota mencari nafka. Seperti yang terlihat pada setiap sore maupun pada setiap hari minggu. Para pedagang di Kota Bogor biasanya menjajahkan berbagai barang dagangan di Lapangan Sempur. Setiap sore, barang-barang yang dijajakan terbatas pada jajanan dan cindra mata.

Di saat seperti ini, ketika pemerinta belum mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga negeranya, usaha informal menjadi jalan untuk mendapat penghasilan. Lapangan Sempur dan ruang terbuka hijau lainya biasanya menjadi lokasi pilihan dimana barang dagangan milik para pedagan akan dijual.

****
Pagi itu, saya melihat-lihat barang dagangan yang dijajakan. Saya berkeliling melingkari lapangan sepak bola, sama seperti para pengunjung lainya. Saya berhenti agak lama di penjual pakaian. Saya tertarik membeli baju di situ. Ada satu baju, di buat oleh parah pengrajin batik di klaten Jawa tengah membuat saya tertraik. Setelah menawarkan harganya, saya membeli baju itu. 

Saya pun berhenti di lapangan bola voli, tempat diadakan pertunjukan topeng monyet. Saya menyaksikannya sebentar. Setelah itu, saya mampir di gerobak burur ayam untuk sarapan. Saya sarapan sendirian. Pagi itu, saya tidak berjumpa dengan orang-orang yang saya kenal. Akhirnya saya pulang dengan berjalan kaki ke kontrakan. Dalam perjalanan pulang saya masi berjumpa dengan orang-orang yang masi berdatangan mengunjungi lapangan sempur. Pagi itu, kira-kira jam stengah delapan***

Sumber: aukitekege.blogspot.com

Mar 20, 2011

BAHASA DAERAH PAPUA DI AMBANG KEPUNAAN

BAHASA DAERAH PAPUA DI AMBANG KEPUNAAN


Oleh: Yakobus Dekepa
 
Pembaca budiman, patut kita ketahuai bahasa adalah suatu ciri khas manusia yang berada di dalamm diri seseorang. Ia tidak akan perna terlepas dari kehidupan sosial. Bahasa adalah alat komonikasi yang paling ampu di dunia ini. Dengan komonikasi manusia saling mengenal satu sama lain. Dengan bahasa manusai saling berinteraksi, dengan bahasa kita bisa digunakan untuk alat tukar menukar perdangagan ekonomi dan sosial.

Mar 18, 2011

MIRAS ( MINUMAN KERAS), satu Jalan menuju musnahnya bangsa Melanesia

MIRAS ( MINUMAN KERAS), satu Jalan menuju musnahnya bangsa Melanesia



Oleh: jhon pekei *


Kawan, sadar atau tidak sadar, Miras adalah satunya jalan musnahnya bangsa Melanesia. Yang jelas Miras dapat menganggu kekebalan tubuh. Akhirnya, keseimbangan tubuh menjadi tergangu dan akhirnya, terjadi, harapannya yang tidak diinginkan, yakni meninggal tanpa penyebab yang jelas.
Ada kisah, dalam tiga tahun belakangan, Mahasiswa Papua meninggal hanya karena keceplosan minuman keras itu. Dan, sampai- sampai dengan Miras ini menjadi sumber timbulnya berbagai persoalan. Sampai- sampai komplikasi masalah menjadi tak terbendung.

Ada kawan saya, katakan saja, si Dia, setiap ada uang digunakan untuk minuman keras. Kadang si Dia biasa menjadi bandarnya bersama kawan dan bahkan sahabat- sahabat yang dikenal di sekitaran itu. Ini gawat.

Saya tidak tahu pasti, apa manfaat si dia minum tetapi, di lihat dari cara dia berinteraksi dengan saya dan sesama teman Bandar Miras, kadang ada rasa kekecewaan yang ada pada dirinya yang secara psikologis belum pulih. Dan, sangat susahya, ketika kita beri masukan sama si dia. Saya perlu metode yang sangat tepat untuk hal ini.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, Mahasiswa Papua, untuk Bogor sendiri, ada dua orang meningal. Yang intinya adalah keceplosan dengan minuman keras. Begitu juga yang terjadi di Jakarta. Saya belum tahu pasti di kota studi lainnya, dan minum minuman keras secara diam- diam. Lebih ironisnya lagi bila Miras itu menjadi santapan perempuan- perempuan Papua, yang seharusnya melahirkan generasi- generasi penerus bangsa Papua, bangsa Melanesia. Ini hanya beberapa informasi di Se-Jawa dan Bali.

Di tanah Papua (red: Papua dan Papua Barat ) sendiri, MIRAS ini di bebaskan beredar di seluruh tanah Papua. Sampai- sampai, Miras menjadi salah satu usaha dari pemimpin- peminpin local dan cabinet perusak daerah tanah Papua. Sebagai lahan bisnis yang menguntungkan bagi dirinya. Pemimpin kita itu, mengabaikan yang namanya, dengan kegiatan miras yang dapat mengakibatkan kematian seribu jiwa.

Coba pandang saja, wajah tanah Papua kita, yang kataya miras merupakan budaya orang luar, toh, menjadi santapan cukup luar biasa. Dari anak, remaja, tingkatan dewasa, orng tua, dan bahkan tete dan nenek sekalipun. Ini payah. Cepat obati demi keselamatan jiwa.

Di Jakarta TV, Saya menyaksikan siaran lansung di TV regional ini. Dari TV ini menyiarkan dua orang perempuan Papua mabuk patah, dijalan raya Otista, Jakarta. Kabarnya, kedua perempuan itu, setelah mabuk keduanya memindahkan barang- barang keduanya melalui sebuah taksi “blue bird “, ke kos barunya. Keduanya mengamuk karena, sopir tidak bisa menghartarkan kedua perempuan itu dalam keadaan mabuk. Akhirnya, berhasil di sorot cameramen Jakarta TV dan kemudian disiarkan.
Ini hanya sebuah contoh bahwa, kami manusia Papua belum sadar bahwa, dengan mabuk segala permalahan akan muncul dan bisa menuju kematian. Kita manusia papua belum sadar bahwa, dengan mabuk dapat memberikan mamfaat yang cukup luar biasa atau tidak. Kadang kita juga tidak sadar bahwa, mabuk adalah budaya luar.

Dengan ketidaksadaran kita manusia Papua, dari kaum intelektual, kaum pemimpin, kaum masyarakat seluruhnya, tidak sadar bahwa, mabuk adalah pembawa masalah secara pribadi. Dan kemudian dari ketidaksadaran kita akhirnya, miras sudah menyebar di seluruh tanah papua. Bahkan, sampai di pelosok- pelosok. Kayak pemerataan pembangunan saja.

Kawanku, inilah Miras. Miras ini tidak dapat memberikan solusi bagi kita masyarakat tanah Papua. Malah, dengan ini dapat memberikan kondisi tubuh menjadi tergangu. Dan bisa dikhawatirkan dan sudah terbukti dalam beberapa tahun terakhir bahwa bisa mengalami kematian.

Kawanku, saya hanya bisa pesan sama kitorang masyarakat tanah papua untuk sadar. Sadar bahwa, mabuk itu dapat merusak diri saya. Mari kita saling mengingatkan sesama bangsamu, Melanesia. Ketika kawan, mengingatkan kepada sahabat dekatmu, rekan kerjamu, keluargamu, dalam organisasimu, maka anda sangat peduli dengan bangsa Melanesia- mu untuk terselamatkan dari sisi ini. Tapi mulailah dari diri sendiri dulu.

Mari sosialisasilah ! sekarang ini juga !

*) penulis pemula adalah mahasiswa asal Tanah Papua

Sep 3, 2010

Makanan Khas Papua Bukan Hanya Papeda


Kurang promosi untuk memperkenalkan makanan khas Papua sehingga makanan khas Papua kurang dikenal dalam kuliner di restaurant. Hanya papeda saja yang banyak dikenal para konsumen, padahal masih ada makanan khas lainnya seperti Keladi Tumbuk, Sayur Lilin plus Bunga Pepaya.
 
JUBI --- Festival Danau Sentani 2010 yang baru saja berakhir. Harus diakui bahwa moment ini tidak banyak menampilkan kuliner khas provinsi paling timur nusantara. “Apakah hanya Papeda yang merupakan kuliner khas Papua?,”Tanya salah seorang pengunjung kepada JUBI pekan lalu di sela-sela rangkaian kegiatan FDS. Padahal lanjut dia, mestinya ajang ini bisa digunakan juga untuk mempromosikan kuliner khas lokal Papua. Mulai dari keladi, makanan yang dimasak dengan bakar batu atau segala jenis sayur-sayuran khas Papua.

Danau Sentani yang letaknya tepat di jalan utama dan satu-satunya jalur kendaraan menuju Bandara Sentani baik dari Kota Jayapura atau sebalik Kabupaten Jayapura, sudah pasti akan menikmati pemandangan alam danau ini. Begitu pula para penumpang di dalam pesawat pesawat akan mengitari Danau Sentani dari ketinggian terbang sebelum mendarat di Bandara Udara Sentani.

Agaknya tidak berlebihan apabila Pemerintah Kabupaten Jayapura menjadikannya sebagai salah satu kawasan wisata dunia. Ataukah ini hanya sekedar proyek wisata demi mewujudkan mimpi memperkenalkan Danau Sentani ke seantero jagad ini khususnya di Indonesia. Memang memasarkan asset wisata sebuah wilayah bukan pekerjaan instant atau sekadar mengejar proyek wisata belaka. Mestinya harus berangkat dari potensi yang dimiliki masyarakat pemilik budaya dan alam tersebut. Apabila masyarakat tidak terlibat dan hanya menonton saja maka akan sulit untuk berkembang. Minimal tumbuh dan berkembang di tingkat masyarakat akar rumput sehingga mereka sendiri yang akan antusias menggelar pesta budaya atau festival sebesar Festival Danau Sentani.

Membaca konsep wisata FDS 2010 yang menawarkan tur wisata menarik keliling Danau Sentani, menikmati Kampung Wisata Laut Tablanusu, Tugu Sejarah Jepang semasa Perang Dunia II di Kampung Genyem dan rangkaian kegiatan lainnya termasuk kuliner khas Papua dan Nusantara. Kegiatan lainnya adalah pameran Pesona Anggrek dan tanaman hias khas Papua, Kios Buku Budaya dan Sejarah Papua, serta pesona kembang api saat malam hari di atas Danau Sentani. Hajatan besar festival ini kelihatannya milik Pemerintah Kabupaten Jayapura hingga muncul harapan untuk menyantap makanan khas Sentani.

Sayangnya apa yang menjadi keinginan sebagian besar pengunjung untuk menyaksikan keanekaragaman kuliner khas Kabupaten Jayapura tidak terpenuhi karena panitia seperti lebih sibuk dengan rangkaian acara tarian yang lebih diprioritaskan untuk menarik perhatian pengunjung.

"Pada dasarnya, Konsep FDS tahun ini dikemas lebih modern namun tidak menghilangkan nilai budaya Papua pada umumnya dan Sentani pada khususnya," demikian kata Bupati Kabupaten Jayapura, Habel Melkias Suwae.

Pemerintah Kabupaten Jayapura setiap tahun menggelar Festival Danau Sentani (FDS). Festival Danau Sentani pada Tahun 2010 ini telah berlangsung pada 19-23 Juni 2010 lalu. Banyak catatan keberhasilan yang diperlihatkan, tetapi tidak sedikit juga suara-suara mencibir yang menunjukan masih banyak kelemahan dalam persiapan oleh Panitia FDS kali ini.

Adalah contoh kecil mengenai keberagaman makanan (kuliner) khas Wilayah Kabupaten Jayapura yang oleh Panitia FDS tahun ini terkesan kurang dioptimalkan sebagai salah satu potensi yang dipertontonkan dan dijual kepada wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke FDS.

Ditengah banyaknya makanan siap saji dan dan produk makanan kemasan yang ditawarkan oleh puluhan pedagang orang pendatang yang mendominasi los-los yang dibangun panitiia FDS. Walau masih didominasi pedagang non Papua ternyata masih ada juga sebagian Mama-mama Papua asal Kabupaten Jayapura yang tetap setia memamerkan dan menjual makanan khasnya seperti Papeda, Papeda Bungkus, Sate Ulat Sagu, Keladi (betatas) dan Ikan Gabus Kuah Kuning plus Sambal.

“Seharusnya panitia dorang bisa lebih berpikir baik supaya kami, Mama-mama Asli di sekitar Danau Sentani ini diberi los tempat berdagang yang terletak di dalam arena FDS supaya bisa berdagang dengan baik dan laku. Lihat saja kita hanya dapat tempat dibagian pinggiran arena,” kata Mama Debora, salah seorang Pedagang Asli Sentani yang menjajakan makanan khas Papua di los jualannya. Memang selain mama Debora masih ada beberapa Pedagang Asli Kabupaten Jayapura lain yang menjual kuliner khas Sentani, walaupun jumlah mereka sangat jauh di bawah jumlah pedagang non Papua yang menguasai pasaran jual-beli di areal FDS karena umumnya mereka menaruh banyak ragam makanan dan minuman siap saji yang menarik mata pengunjung.

Lomba Masak
 
Menjelang hari terakhir pelaksanaan FDS, ada kegiatan yang sedikit banyak membuat para pemburu rahasia resep dan penikmat kuliner mendapat hiburan, Panitia FDS yang membuat lomba masakan dengan bahan baku lokal. Lomba ini membuat puluhan pesertanya bersaing ketat menunjukan kebolehannya mengolah kuliner khas Sentani. Hal ini membuat dewan juri harus bekerja keras menentukan juara yang hingga kini belum menentukan pemenang dari kegiatan tersebut.

Koordinator Lomba Kuliner FDS 2010, Ir. Henderima Lauterboom, M.Msi mengatakan, para peserta lomba sebagian besar telah memahami dan sangat ahli dalam hal mengolah makanan lokal menjadi menu makanan bergengsi serta bergizi dan ekonomis, sehingga tim jurinya belum bisa menentukan pemenang lomba. Ia menjelaskan, lomba kuliner seperti lomba lainnya harus bertemakan Festival Danau Sentani, sehingga bahan baku dari kuliner harus menggunakan bahan baku lokal daerah. Meskipun demikian ada pengecualian terhadap beras dan tepung terigu sedangkan untuk bahan baku diantaranya adalah betatas atau ubi jalar, singkong, keladi, sagu, jagung, ikan gabus Danau Sentani yang bagus dan bergizi. Dengan kreasi dan keterampilan para peserta yang mampu mengolah bahan lokal tersebut menjadi makanan yang bergizi, ekonomis dan bergengsi, telah membuat banyak pengunjung yang berkeinginan mencicipi hasilnya. Bahkan dari pantauan JUBI, sebagian peserta lomba masak juga menjadikan jus pinang sebagai minuman penutup hidangan kreasinya.

Masih berdasarkan data yang dihimpun JUBI di lokasi FDS, sebanyak 30 kelompok masing-masing dari Tim Penggerak PKK dari 19 distrik se-Kabupaten Jayapura, Persatuan Guru TK dan gabungan organisasi lainnya dari Kabupaten/Kota Jayapura, menjadi peserta lomba masak itu. Menyinggung hadiah yang diberikan panitia kepada pemenang lomba masak ini, Henderima Lauterboom mengungkapkan untuk pemenang pertama dan kedua akan memperoleh hadiah bervariasi. “Panitia menyiapkan hadiah bagi peserta lomba kuliner berupa uang pembinaan masing-masing juara I sebasar Rp. 3 juta, juara II Rp.2,5 Juta, juara III Rp. 2 juta,” katanya seraya mengakui kuliner khas Sentani sangat potensial untuk diperkenalkan pada masyarakat luar sebagai salah satu potensi dan keunikan Kabupaten Jayapura, selain objek wisata alam dan sejarahnya.

James, salah seorang peserta lomba memasak kuliner khas Papua khususnya kabupaten Jayapura mengatakan, dirinya sangat senang karena Panitia FDS kali ini bisa memberikan kesempatan untuk mempertontonkan masakan khas Papua sekaligus cara pengolahannya. “Meski demikian saya menilai belum adanya promosi yang baik tentang aneka ragam kuliner di Papua, yang biasanya selalu menjadi nomor dua atau diselipkan dengan paket wisata alam,” kata James.

Sekretaris Umum (Sekum) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Papua, Jefry Abel mengakui, usia FDS yang baru tiga tahun membuat pelaksanaannya belum bisa optimal dalam mendatangkan wisatawan lokal dan mancanegara. Selain itu juga tergantung pada profesionalisme panitia dalam menyiapkan acara dan menyuguhkan paket wisata yang ditawarkan kepada pengunjung. “Ibaratnya FDS ini seperti bayi yang baru belajar jalan, jadi belum begitu besar gaungnya. Tetapi tahun ketiga ini sudah lebih maksimal dalam promosi dan pemberitaannya hingga dunia mengetahuinya. Paling tidak FDZ mampu melibatkan masyarakat setempat. (Jubi/Marcel)

Aug 29, 2010

Mencari Dunia yang Hilang

Mencari Dunia yang Hilang



Tahukah anda sebuah novel yang berjudul "The Lost World" atau Dunia Yang Hilang, cerita ekspedisi karangan penulis detektif Sir Arthur Conan Doyle Inggris. Novel itu menceritakan sebuah regu penjelajah dengan tidak disangka memasuki suatu dunia yang tingkat evolusinya masih berada pada masa ratusan juta tahun silam. Belum lama berselang, suatu tim survei yang terdiri dari penjelajah Amerika, Indonesia dan Australia mengadakan peninjauan di sebagian daerah pegunungan Foja Propinsi Papua Indonesia. Di sana mereka menemukan suatu tempat ajaib yang mereka namakan "dunia yang hilang",dan "Taman Firdaus di bumi", dengan menyaksikan puluhan jenis burung, kupu-kupu, katak dan tumbuhan yang belum pernah tercatat dalam sejarah.

Tanah Suci Terakhir

Propisni Papua terletak di bagian barat Pulau Nugini, adalah propinsi paling jauh terpencil di Indonesia. Sedangkan "dunia yang hilang" itu terletak di ujung timur Propinsi Papua, di sebuah lereng Gunung Foja, merupakan daerah hutan hujan tropis yang jarang dijamah manusia. Luas daerah itu sekitar 3.000 kilometer persegi. Gunung Foja tingginya 2.200 meter di atas permukaan laut, sangat curam, bahkan warga setempat pun tak berani masuk ke wilayah itu, ditambah ekosistem yang sangat kaya, maka daerah itu tak diragukan merupakan tanah suci terakhir di dunia bagi survei ilmiah. Penemuan kali ini membuktikan lebih lanjut bahwa Pulau Nugini merupakan salah satu daerah yang paling kaya keanekaragaman hayatinya di dunia, dan tidak kalah dibandingkan dengan Kepulauan Galapagos yang pernah disinggahi Darwin pada masa lalu.

Organisator tim survei itu, anggota Konservasi Internasional, sebuah organisasi internasional yang melindungi keanekaragaman hayati global, Doktor Buchler Bruce, menceritakan hasil temuan mereka: "Seolah melalui pelengkungan waktu, kami telah memasuki dunia yang belum pernah didatangi manusia. Kami seperti anak kecil berada di toko kembang gula, di setiap tempat menyaksikan barang-barang aneh yang belum pernah dilihat sebelumnya. Sebenarnya apa saja yang telah disaksikan oleh para ilmuwan itu dalam survei selama satu bulan tersebut?

Surga Burung

Kalau dihitung berdasarkan luas rata-rata, jenis burung di Pulau Nugini adalah yang paling banyak di dunia. Di surga burung itu, tim survei telah menyaksikan lebih 200 jenis burung. Begitu para ilmuwan tiba di daerah survei, mereka disambut oleh seekor burung yang aneh. Bulunya hitam, tapi mukanya berjengger warna kuning tua, seperti ayam. Buchler yang ornitolog akhirnya memastikan bahwa burung itu adalah honeyeater, atau burung pengisap madu jenis baru. Burung itu menjadi spesies jenis burung baru yang pertama ditemukan ilmuwan di Pulau Nugini sejak tahun 1939. Buchler menceritakan perasaannya waktu itu seolah jantungnya berhenti berdegup.

Namun saat yang lebih menggetarkan hati segera menyusul: sepasang burung yang belum pernah dikenal sebelumnya mempertunjukkan upacara pencarian jodoh di depan perkemahan mereka. Burung jantan berwarna hitam, di bagian tenggorokan terdapat bulu warna emas, dan yang paling menarik perhatian ialah enam batang bulu kepala sepanjang 10 sentimeter yang mirip kawat logam. Burung jantan menegakkan bulu-bulu itu dan terus menggetarkannya, sambil mengeluarkan bunyi yang merdu, nyata sekali ia sedang merayu burung betina. Sepasang burung itu adalah jenis Parotia berlepschi von Berlepsch, semacam burung cenderawasih enam bulu yang mengambil nama ilmuwan Jerman Von Berlepsch, dan dianggap sudah punah bertahun-tahun lalu.

Taman Binatang Menyusui

Kali ini para ilmuwan telah mencatat lebih 40 jenis binatang menyusui, di antaranya termasuk 6 jenis kanguru pohon yang sangat langka di daerah lain Pulau Nugini, khususnya sejenis kanguru pohon warna emas yang pertama kali ditemukan di Indonesia, dianggap sebagai kanguru yang paling cantik di dunia, juga adalah binatang berkantung (marsupial) paling berharga yang hidup di daerah hutan rimba.

Katak "Mini"

Ahli binatang melata tim survei telah menkonfirmasi 60 jenis katak, termasuk 20 jenis baru yang belum pernah tercatat sebelumnya. Penemuan yang paling menggembirakan ialah sejenis katak yang pajang tubuhnya tidak lebih dari 14 milimeter. Katak itu dapat ditemukan hanya dengan meneliti suara sangat ringan di antara daun pohon. Begitu banyak jenis katak dan begitu besar perbedaannya, belum pernah ditemukan oleh para ilmuwan sebelumnya, sekaligus juga menunjukkan bahwa masunia masih sangat sedikit mengetahui kelompok jenis katak di daerah pegunungan Foja bahkan Pulau Nugini.

Dalam survei selama satu bulan, para peneliti berbagai bidang telah memperoleh hasil-hasil tertentu. Selain penemuan yang tersebut tadi, ahli serangga telah menemukan lebih 150 jenis serangga termasuk 4 spesies baru, khususnya jenis kupu-kupu langka yang jarang ditemukan di bagian lain dunia. Misalnya kupu-kupu sayap burung, diangkap sebagai kupu-kupu yang terbesar di muka bumi, rentangan sayapnya mencapai 18 sentimeter. Survei kali ini hanya menjelajah sebagian kecil daerah hutan hujan tersebut, dan masih terdapat daerah yang sangat luas untuk diselidiki lebih jauh oleh para ilmuwan. Kini mereka sedang siap melakukan survei ilmiah lagi pada akhir tahun ini untuk mendapatkan penemuan-penemuan yang lebih banyak. Selain itu, mereka juga mengarahkan pandangan kepada benua Afrika dan Amerika Selatan, siapa tahu barangkali di sana juga ada "dunia yang hilang" seperti itu.

Saudara pendengar, demikian tadi telah kami perkenalkan "dunia hilang" yang baru ditemukan di Indonesia. Terima kasih atas perhatian anda, sampai jumpa lagi minggu depan. Inilah penyiar anda Lily.


Sumber : http://indonesian.cri.cn/1/2006/06/14/1@44751.htm